Mengambil langkah menjauh dari zona aman, cukup dilema. Di saat hati, otak, dan pasukannya mengatakan ingin tetap tinggal, tapi waktu dan alam tak memberikan restu.

Raga kelelahan menahan asa, jiwa tertatih menahan rindu.
Satu per satu langkah dimantapkan, walau kerikil tajam siap menghadang tanpa aba-aba.
Rasa perih pun mulai tak dirasa, karena kebal satu2nya pilihan yang tersisa.

Teriakan tak bisa bergema, longlongan hati pun tak berirama.
Semua serba tak bernyawa.
Seperti pasrah menunggu sang waktu berhenti..
Atau mungkin akan berbaik hati, merestui suara hati.

Sementara ini, kicauan burung menjadi teman sejati,
Hening malam jadi pendengar setia, tetesan air hujan jadi sahabat karib.
Mulai merasa sejiwa dengan langit malam.
Tak kenal warna warni, hanya hitam dan putih.
Waktu akan menjadi saksi bisu dunia baru ini.

Iri dengan warna warni hari kemarin?
Mungkin ya.. Atau bahkan mungkin tidak tahu juga.
Otak dan hati sudah mulai tak senada, sering kali cekcok tanpa alasan jelas.
Suara suara banyak menggema, tapi tak terdengar jelas.
Hanya menambah beban di kepala.
Pulang dan pergi.
Dua kata yang keluar masuk tanpa izin.
Tapi selalu berakhir pada kata tanya...

Ah..., hujan janganlah datang jika hanya akan menjadi petir, bawalah serta sang pelangi dan matahari mengelilingi poros hidupku.



Komentar

Postingan Populer