Laman

Jumat, 01 Juni 2012

Analisis Film Top Secret/The Billionaire


BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Sejarah munculnya “Top Secret
GTH (GMM Thai Hub) adalah salah satu Rumah Produksi terbesar di Thailand yang banyak menghasilkan film-film yang meraih kesuksesan luar biasa. Seperti Fan Chan 'My Girl' (yang bahkan telah diremake di Indonesia dengan judul 'Cinta Pertama'), sederet film horor seperti Shutter, Alone, dwilogy Phobia, dan yang belum lama dirilis film komedi romantis First Love dan SuckSeed.
Tahun ini ternyata GTH masih kembali memfokuskan untuk membuat film remaja bertemakan 'coming of ages' dengan segala problematikanya. Kali ini film rilisannya terbaru berjudul  The Billionaire/Top Secret yang dibintangi oleh bintang muda Thailand Patchara Chirathivat yang semakin dikenal namanya pasca membintangi film SuckSeed.
Top Secret yang dirilis 20 Oktober 2011 ini diangkat berdasarkah kisah nyata tentang seorang pengusaha terkenal bernama Top Ittipat (Top Aitthipat Kulapongvanich, nama lengkapnya) yang mulai membangun usaha berupa perusahaan 'rumput-laut' sejak ia masih remaja. Kemudian usahanya begitu berkembang dengan sangat pesat seiring tahun di seluruh dunia dan menjadikannya seorang Milyuner di usianya yang baru menginjak 27 Tahun.
Siapa sangka cemilan rumput laut bisa dijadikan lahan bisnis ’basah’ sama seperti habitat rumput laut yang basah-basahan di laut. Cemilan rumput laut goreng yang populer di kalangan etnis Tionghoa di Thailand ini kemudian bisa mendunia melalui tangan seorang pemuda yang membuatnya jadi seorang billionaire (milyuner).
Jalan hidup seseorang bisa begitu berliku adanya namun selalu saja tetap ada ujungnya. Kesuksesan adalah impian semua orang. Berlikunya jalan akan sampai pada kesuksesan asalkan dijalani dengan kesungguhan hati dan kerja keras. Begitulah kisah yang terjadi dalam hidup seorang pemuda dari Thailand dalam menjalani usaha bisnisnya dan menghantarkan produk cemilan rumput lautnya pada dunia.
Film ini lebih memfokuskan kisah seorang remaja yang diperankan oleh Patchara Chirathivat, yang merupakan anak dari pemilik salah satu usaha Departemen Store terbesar di Thailand. Jadi, walaupun Ia tidak bisa merintis usaha seperti yang berhasil dilakukan oleh Top, Ia tetap bisa merasakan hidup seperti Milyuner.
Film ini disutradarai oleh Somboonsuk Niyomsiri yang merupakan salah satu Sutradara legendaris Thailand yang sudah berkarir sejak Tahun 1970 dan bahkan salah satu filmnya yang berjudul Tone telah dinobatkan oleh pemerintahan Thailand sebagai 'warisan negara'. Sang sutradara, Songyos Sugmakanan, yang pernah menyutradarai beberapa film terkenal di Thailand, terinspirasi oleh kehidupan milyader muda ini yang kemudian membuat sebuah film biografikal. Top yang asli pun tidak sungkan menceritakan masa remajanya yang nakal dan keras kepala.
Melalui film Top Secret WPLnya, Sang sutradara film Songyos Sugmakanan berniat untuk menciptakan film "Social Network" versi Thailand yang dilengkapi dengan komedi, drama, dan konflik pertemanan khas anak muda.

I.2. Karakter Pemain
Vladimir Propp mengungkapkan karakter adalah produk dari plot di mana sifat karakter hanya sebagai fungsi. Fungsi berarti karakter sebagai elemen pendukung plot. Sedangkan Tzevetan Todorov menjelaskan bahwa fiksi memiliki 2 jenis naratif yaitu character oriented dan plot oriented.
Inti cerita dari film berdurasi 120 menit ini hanya berpusat pada kehidupan Top, sehingga keberadaan pemeran-pemeran lainnya terkesan hanya sebagai pelengkap saja, terutama pemeran Lin, kekasih Top, yang sama sekali tidak memiliki bumbu yang kuat untuk memperkaya rasa. Pada adegan terakhir, terdapat sebuah adegan kejutan dimana Top bertemu dengan Top yang asli yang berperan sebagai cameo di film ini. Adegan tersebut mengingatkan saya tentang film biografikal berjudul “The Pursuit Of Happyness” yang diperankan oleh Will Smith, di mana terdapat adegan Will Smith yang memerankan Chris Gardner bertemu dengan Chris Gardner yang asli.
Dalam film ini, pembentukan karakter berjalan dengan wajar. Tapi yang jelas, di film ini, hanya ada 2 karakter yang dominan, yakni Top Ittipat dan sang paman. Berikut beberapa karakter dalam film “The Billionaire/Top Secret” :
  1. Pachara Chirathivat sebagai Top Aitthipat Kulapongvanich : Di awal film Top adalah seorang remaja berusia 16 tahun yang “sangat” ingin menjadi “bisnussesman” kaya raya hingga akhirnya menjadi seorang milyader (Baht) di Thailand saat berusia 26 tahun (2012) dengan pendapatan 1.500 juta Baht per tahun.  Kepribadian Top yang menjadi sentral dibentuk kuat dan mapan dengan sifat berani, pantang menyerah, keras kepala, dan pekerja keras.
  2. Pembantu yang selalu setia mendampingi Top : Hadir sebagai sosok paman “tua” yang bijaksana dan pendukung setia Top dalam berbisnis. Di film ini, dia selalu menjadi partner Top dalam memulai usaha.
  3. Walanlak Kumsuwan sebagai Lin : Lin adalah kekasih Top yang merupakan teman semasa SMA-nya. Karakternya tidak begitu menonjol, Lin termasuk tipe cewek yang sangat struktural, bertolak belakang dengan Top dan sedikit egois. Bagi Lin, pendidikan itu nomor satu, pekerjaan itu nanti akan datang jika pendidikan kita tinggi. Sehingga Lin bersikap ngotot seperti orang tua Top, memaksa Top menuruti kemauannya untuk lebih fokus ke kuliah dari pada bisnis Top sendiri.
  4. Ayah Top : Tampil dalam sosok ayah yang agak “dingin” dan “kaku”. Selalu menganggap bahwa Top, anak bungsunya tak bisa berbuat banyak dalam hal bisnis dan terkesan meremehkannya. Baginya, anak-anaknya harus mengenyam pendidikan kuliah (sebisa mungkin di universitas negeri).
  5. Ibu Top : Tampil dalam sosok ibu yang hangat dan penyayang. Prinsip hidupnya hamper sama dengan sang ayah, namun tidak sekaku ayah. Dia masih bisa menerima keadaan dan keinginan Top walau tak sesuai dengannya.

I.3. Sinopsis Cerita
Film Billionaire adalah salah satu film yang sangat menginspirasi. Film ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang awalnya pecandu game online yang keluarganya terlilit hutang sangat banyak berubah menjadi pengusaha rumput laut terkenal di Thailand dan mungkin di puluhan Negara lainnya. Film ini diangkat dari kisah nyata seseorang yang bernama Top Ittipat yang diperankan oleh Peach Pachara Chirathivat.
Awal cerita dimulai pada saat Top Ittipad masih duduk di bangku SMA pada tahun 2004 dan masih gemar bermain game online dan menghasilkan banyak uang dari game tersebut dari penjualan senjata-senjata di game tersebut. Uang yang didapatkan begitu banyak hingga bisa beli mobil dan hal-hal yang diinginkan seperti Play Station 2, kehidupan top bisa dibilang boros. Karena kegemaran dengan game online, dia hingga lupa diri untuk belajar sehingga tidak masuk ke perguruan tinggi negeri sehingga harus masuk universitas swasta. Di sisi lain orang tua Top sedang mengalami masalah finansial dan terlilit hutang sangat banyak namun masih berusaha untuk membiayai biaya Top kuliah tetapi Top menolak. Akhirnya dia bisa kuliah tapi dengan mencuri jimat milik ayahnya dan digadaikan.
Selama perkuliahan, Top seperti tidak tertarik dengan kuliah karena di kepalanya hanya terpikirkan bagaimana caranya mencari uang dan menebus jimat milik ayahnya. Suatu ketika, Top berjalan-jalan ke sebuah pameran dan melihat ada sebuah alat untuk menggoreng kacang kemudian terpikir untuk berjualan kacang. Top lalu menyewa alat tersebut dengan harga 10.000 bath perbulan, di sini keberanian Top terlihat. Kemudian dia membuka toko kacang di Mall, di sini perjuangan Top dimulai. Untuk dapat membuat kacang yang enak, dia bertanya kepada tukang kacang di jalanan bagaimana caranya membuat kacang yang enak. Namun, walaupun dia berhasil membuat kacang yang enak, dagangan tetap tidak laku sehingga membuat Top sedikit frustasi dan mencoba beberapa cara agar tidak laku. Suatu ketika Top berjalan ke sebuah pasar tradisional dan mendapatkan beberapa inspirasi seperti memberikan diskon dan lokasi sangat menentukan bisnis.
Kemudian Top bersikeras meminta pindah tempat ke bagian depan Mall dan terlihat bahwa kacang goreng semakin laku keras kemudian ia membuka beberapa cabang, namun usaha tersebut tersendat dikarenakan mesin pembuat kacang goreng tersebut menimbulkan asap dan mengotori atap Mall sehingga harus tutup. Setelah itu dia mendapatkan inspirasi untuk membuat rumput laut goreng dan ia membeli beberapa rumput laut namun basi dalam waktu 1 minggu, ini membuatnya bertanya-tanya dan mendatangi professor dibidang pangan untuk menyelesaikan masalah ini. Profesor tersebut berhasil membantu Top membuat makanan agar tidak mudah basi dengan membuat vakum kemasan dan mengganti dengan nitrogen. Kemudian tantangan berikutnya adalah Top tidak bisa membuat rumput laut yang enak karena setelah digoreng rasanya pahit. Dia dan pamannya menghabiskan lebih dari 100.000 bath (28 juta) untuk uji coba rumput laut tapi gagal, sampai semua rumput lautnya habis.
Kini Top telah berusia 26 tahun dan ia telah mengekspor produknya ke 27 negara dan Ia memiliki perkebunan rumput laut sendiri di Korea Selatan. Ia telah membuktikan bahwa seseorang yang mungkin dianggap tidak berharga, namun dengan usaha dan kerja keras, maka suatu saat dapat menjadi lebih berharga dari apa yang orang lain pikirkan.

 BAB II
KERANGKA TEORI

II.1. Teori kritis dan interpretif
Jenis teori ini berkembang dari tradisi sosiologi interpretif, yang dikembangkan oleh AlfredSchulzt, Paul Ricour et al. Sementara teori kritis berkembang dari pemikiran Max Weber, Marxisme dan Frankfurt School. Interpretif berarti pemahaman (verstechen) berusaha menjelaskan makna dari suatu tindakan. Karena suatu tindakan dapat memiliki banyak arti, maka makna tidak dapat dengan mudah diungkap begitu saja. Interpretasi secara harfiah merupakan proses aktif dan inventif. Teori interpretif umumnya menyadari bahwa makna dapat berarti lebih dari apa yang dijelaskan oleh pelaku. Jadi interpretasi adalah suatu tindakan kreatif dalam mengungkap kemungkinan-kemungkinan makna. Implikasi sosial kritis pada dasarnya memiliki implikasi ekonomi dan politik, tetapi banyak di antaranya yang berkaitan dengan komunikasi dan tatanan komunikasi dalam masyarakat.Meskipun demikian, teoritisi kritis biasanya enggan memisahkan komunikasi dan elemen lainnya dari keseluruhan sistem. Jadi, suatu teori kritis mengenai komunikasi perlu melibatkan kritik mengenai masyarakat secara keseluruhan. Pendekatan kelompok ini terutama sekali popular di Negara-negara Eropa. Karakteristik umum yang mencirikan teori ini adalah :
a.       Penekanan terhadap peran subjektivitas yang didasarkan pada pengalaman individual.
b.      Makna merupakan konsep kunci dalam teori-teori ini. Pengalaman dipandang sebagai meaning centered.
c.       Bahasa dipandang sebagai kekuatan yang mengemudikan pengalaman manusia.
Di samping karakteristik di atas yang menunjukkan kesamaan, terdapat juga perbedaan mendasar antara teori-teori interpretif dan teori-teori kritis dalam pendekatannya. Pendekatan teori interpretif cenderung menghindarkan sifat-sifat preskriptif dan keputusan-keputusan absolute tentang fenomena yang diamati. Pengamatan menurut teori interpretif, hanyalah sesuatu yang bersifat tentative dan relative. Sementara teori-teori kritis lazimnya cenderung menggunakan keputusan-keputusan absolut, preskriptif, dan juga politis sifatnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa teori interpretif ditujukan untuk memahami pengalaman hidup manusia, atau untuk menginterpretasikan makna-makna teks. Sedangkan teori kritis berkaitan dengan cara-cara di mana kondisi manusia mengalami kendala dan berusaha menciptakan berbagai metode untuk memperbaiki kehidupan manusia.

II.2. Teori Konflik
"You cannot not to be in conflict".  Secara teori, konflik memiliki pengertian fisik dan non-fisik. Menurut Kamus Merriam Webster dan Advance, konflik dapat diartikan sebagai Perlawanan mental sebagai akibat dari: kebutuhan, dorongan, keinginan atau tuntutan yang berlawanan, Tindakan perlawanan karena ketidakcocokan / ketidakserasian, Berkelahi, berperang, atau baku hantam. Konflik sendiri memiliki tingkatan. Dalam Encyclopedia of Professional Management (Editor Lester Robet Bittle, mcgraw-Hill, Inc, 1998), dijelaskan bahwa tingkatan konflik itu antara lain dijelaskan seperti berikut: 
  1. The unvisible conflict. Konflik yang terjadi pada tingkatan ini adalah konflik yang masih ada di batin kita (tidak kelihatan). Ada beberapa ketidakcocokan antara kita dengan orang lain, tetapi ketidakcocokan itu tidak nampak atau tidak muncul ke dalam ucapan mulut, sikap, dan tindakan.
  2. The perceived / experienced conflict. Konflik yang terjadi pada tingkatan ini adalah konflik yang sudah kita ketahui, kita alami atau sudah nampak. Kita dengan orang lain sudah sama-sama mengalami perbedaan yang kita munculkan dalam bentuk perlawanan. Perbedaan itu bisa jadi berbeda dalam pendapat, harapan, kebutuhan, motif, tuntutan atau tindakan. Perlawanan itu bisa jadi dalam bentuk perlawanan mulut atau sikap.
  3. The fighting. Pada tingkatan ini, konflik sudah berubah menjadi perlawanan fisik, baku hantam, perkelahian, atau hal-hal yang semisal dengan itu. Menurut kamus, fighting adalah melawan orang lain dengan pukulan atau senjata (blow or weapon).

Penyebab konflik sangat beragam, namun secara garis besar dapat dipahami mengenai teori-teori utama mengenai sebab-sebab konflik yaitu:
1.      Teori hubungan masyarakat, Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan, dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat.
2.      Teori kebutuhan manusia, Menganggap bahwa konflik yang berakar disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia (fisik, mental dan sosial) yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Hal yang sering menjadi inti pembicaraan adalah keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi, dan otonomi.
3.      Teori negosiasi prinsip, Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik.
4.      Teori identitas, Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak diselesaikan.
5.      Teori kesalahpahaman antarbudaya, Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh ketidakcocokan dalam cara-cara komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda.
6.      Teori transformasi konflik, Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah sosial, budaya dan ekonomi.

II.3. Anatomi Konflik
Pada tingkatan apapun konflik yang terjadi, pada dasarnya konflik melibatkan unsur-unsur dasar yang khas. Kemunculannya dipicu oleh suatu kejadian penting. Sejalan dengan hal tersebut di atas, Karen Jehn mengurai anatomi konflik dengan menanyakan :
1.      Apa yang memicu konflik
2.      Siapa saja yang terlibat dalam konflik
3.      Apa isu yang disengketakan
4.      Bagaimana strategi yang dipakai masing-masing fihak fihak yang berkonflik untuk mencapai kemenangan
5.      Konflik meluas/mereda
6.      Apa konsekuensi dari konflik yang terjadi




II.4. Psikoanalisis dan Teori Kepribadian
Proses penciptaan tokoh dan karakter dalam tema entrepreneurship/perjuangan hidup/autobiografi (yang inspiratif), memiliki korelasi dengan teori psikoanalisis dan teori kepribadian yang dikemukakan oleh Sigmun Freud.
Sigmund Frued berkeyakinan bahwa jiwa manusia juga mempunyai struktur, meski tentu tidak terdiri dari bagian-bagian dalam ruang. Struktur jiwa tersebut meliputi tiga instansi atau sistem yang berbeda. Masing-masing sistem tersebut memiliki peran dan fungsi sendiri-sendiri. Keharmonisan dan keselarasan kerja sama di antara ketiganya sangat menentukan kesehatan jiwa seseorang. Ketiga sistem ini meliputi : Id, Ego, dan Superego. Masing-masing sistem atau instansi memiliki peran dan fungsi sendiri-sendiri.
Id. Kehidupan psikis seseorang bak gunung es yang terapung-apung di laut. Hanya puncaknya saja yang tampak di permukaan laut, sedangkan bagian terbesar dari gunung tersebut tidak tampak, karena terendam di dalam laut. Kehidupan psikis seseorang sebagian besar juga tidak tampak ( bagi diri mereka sendiri ), dalam arti tidak disadari oleh yang bersangkutan.  Meski demikian, hal ini tetap perlu mendapat perhatian atau diperhitungkan, karena mempunyai pengaruh terhadap keutuhan pribadi ( integrated personality ) seseorang. Dalam pandangan Frued, apa yang dilakukan manusia -khususnya yang diinginkan, dicita-citakan, dikehendaki- untuk sebagian besar tidak disadari oleh yang bersangkutan. Hal ini dinamakan “ketaksadaran dinamis”, ketaksadaran yang mengerjakan sesuatu. Dalam Id berlaku : bukan aku (= subjek ) pelakunya, melainkan ada yang melakukan dalam diri aku.
Ego. Ego berfungsi menjembatani tuntutan id dengan realitas di dunia luar. Ego merupakan mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Ego-lah yang menyebabkan manusia mampu menundukkan hasrat hewani manusia dan hidup sebagai wujud yang rasional ( pada pribadi yang normal ).  Aktivitas Ego ini tampak dalam bentuk pemikiran-pemikiran yang objektif, yang sesuai dengan dunia nyata dan mengungkapkan diri melalui bahasa. Tugas pokok Ego adalah menjaga integritas pribadi dan menjamin penyesuaian dengan alam realitas. Selain itu, juga berperan memecahkan konflik-konflik dengan realitas dan konflik-konflik dengan keinginan-keinginan yang tidak cocok satu sama lain. Ego juga mengontrol apa yang akan masuk ke dalam kesadaran dan apa yang akan dilakukan. Jadi, Fungsi Ego adalah menjaga integritas kepribadian dengan mengadakan sintesis psikis.
Superego. Fungsinya adalah mengkontrol ego. Ia selalu bersikap kritis terhadap aktivitas ego, bahkan tak jarang menghantam dan menyerang ego. Superego ini termasuk ego, dan seperti ego ia mempunyai susunan psikologis lebih kompleks, tetapi ia juga memiliki perkaitan sangat erat dengan id. Superego dapat menempatkan diri di hadapan Ego serta memperlakukannya sebagai objek dan caranya kerapkali sangat keras. Bagi Ego sama penting mempunyai hubungan baik dengan Superego sebagaimana halnya dengan Id. Ketidakcocokan antara ego dan superego mempunyai konsekuensi besar bagi hidup psikis.Superego merupakan sistem kepribadian yang melepaskan diri dari Ego. Aktivitas Superego dapat berupa self observation, kritik diri, larangan dan berbagai tindakan refleksif lainnya. Superego terbentuk melalui internalisasi ( proses memasukkan ke dalam diri ) berbagai nilai dan norma yang represif yang dialami seseorang sepanjang perkembangan kontak sosialnya dengan dunia luar, terutama di masa kanak-kanak.

II.5. Teori Simbol
Teori ini digunakan sebagai interpretasi terhadap simbol tokoh utama dalam film “The Billionaire/Top Secret”. Susanne Langer adalah orang yang mengemukakan teori simbol. Ia mencoba untuk melihat isu dan masalah estetika lewat ekspresi, emosi pada seni bentuk, tulisan dan arti dari simbol. Langer membedakan antara tanda dan simbol. Tanda digunakan untuk menyatakan suatu hal, keadaan atau kejadian. Tanda merujuk pada objeknya sehingga tanda dan objek memiliki hubungan.
Biasanya tanda merangsang subjek untuk bertindak. Tanda dibedakan lagi menjadi tanda alamiah dan tanda buatan. Simbol mengacu pada konsep dan sifatnya tidak selalu merangsang subjek untuk bertindak, namun lebih membuat kita mencoba memahaminya. Simbol adalah representasi mental dari subjek. Tanda dan objeknya hanya bersifat denotatif sementara simbol dan objeknya bersifat denotatif dan konotatif.
Simbol dibedakan menjadi dua, simbol diskursif yaitu simbol yang rasional dan dapat dimengerti secara logika. Simbol ini dapat ditangkap oleh kemampuan akal budi, contohnya bahasa dan simbol representasional yaitu simbol yang sifatnya spontan dan intuisi langsung. Simbol seperti ini terdapat dalam karya seni di mana hubungan elemen simbol kita tangkap secara keseluruhan.
Langer menyebutkan bahwa seni adalah living form yang memiliki ciri khas tersendiri karena realitas yang diangkat adalah subjektif. Pengalaman subjektif dapat menjadi isu suatu bentuk simbolis yang menunjukkan ekspresi yang kuat sehingga bentuk seni tampak hidup. Estetika mesti berangkat dari pengalaman pribadi yang khusus sehingga disebut karya seni. Croce menyebutkan pengetahuan intuitif adalah pengetahuan ekspresif. Intuisi memiliki bentuk, sedang perasaan hanyalah gelombang sensasi. Ungkapan estetis adalah sebuah sintesis. Tidak mungkin membedakan antara yang langsung dan yang tak langsung.

II.6. Metode
Untuk menjelaskan peran dan karakter konflik serta kepribadian dan simbol yang muncul, penulis menggunakan metode Analisis Interpretif terhadap alur dan pendalaman karakter peran utama, yaitu Top Ittipat. Beberapa sudut pandang penulis gunakan untuk melihat karakter dan pemaknaan terhadap peran dan simbol yang digunakan dalam film The Billionaire/Top Secret.

 BAB III
PEMBAHASAN

III.1. Analisis kritis dan interpretif dalam film “The Billionaire/Top Secret
Dari cerita dan “action” film “The Billionaire/Top Secret”, banyak hal yang bisa dikritisi dan diinterpretasi hingga memunculkan beberapa makna, antara lain :
  1. Passion. Di sini Top membuktikan bahwa passion yang dapat membawanya ke arah kesuksesan. Ketika semua orang menyuruhnya untuk fokus belajar, namun karena passion-nya dia ada di dunia game dan berjualan, maka ia tetap melakukan apa yang ia sukai.
  2. Pantang menyerah. Entah berapa banyak Top mengalami kegagalan demi kegagalan di dalam film ini, namun sifat keras kepalanya ternyata membuat Ia menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan selalu mencoba sampai akhirnya meraih impiannya.
  3. Berani. Tidak banyak orang yang memiliki mental seberani Top. Hutang kepada pihak bank untuk memulai usaha, berani mengambil keputusan untuk membeli mesin-mesin yang harganya mahal. Keberanian ini merupakan salah satu kunci terbesar dalam meraih kesuksesan.
  4. Tekun. Dalam film ini sangat terlihat bagaimana ketekunannya dalam membuka usaha. Tidak malu untuk bertanya, melakukan observasi di lapangan, bahkan demi mencapai impiannya Ia rela untuk mengangkat karung, mengecat plafon. Ketekunannya untuk mengejar mimpi sangatlah luar biasa. Karena ketekunannya pada bisnis yang dibangunnya inilah, membuat pendidikan formalnya terhenti. Jika ditelisik lebih kritis lagi, film ini sepertinya ingin menyampaikan pada penontonnya bahwa pendidikan formal itu belum tentu menjamin kita sampai pada sebuah kesuksesan. Tapi sebenarnya, ini sangat relatif sifatnya, tergantung pribadi yang menjalaninya.
  5. Percaya pasti bisa! Dibalik semuanya, Top sangatlah percaya bahwa apa yang Ia lakukan ini bukanlah hal yang sia-sia belaka. Ia banyak mengalami kegagalan dan kerugian, namun ia juga berkata bahwa ia percaya suatu saat semuanya akan terlunaskan. Ia tidak peduli dengan nasehat maupun cemoohan dari orang lain, ia tetap fokus dan percaya dengan apa yang ia ingin lakukan. Ternyata itu berhasil!
III.2. Analisis konflik dalam film “The Billionaire/Top Secret
Interpretasi yang dilakukan dalam film autobiografi ini lebih diutamakan pada dua karakter dominan dalam film yang menjadi tokoh sentral “The Billionaire/Top Secret”. Tokoh tersebut antara lain tokoh Top Ittipat beserta sang paman/pembantu setianya, yang masing-masingnya memiliki pribadi yang sebenarnya agak bertolak belakang namun bisa menjadi partner.
Dalam film ini, Top Ittipat tampil merepresentasikan kisah perjuangan dan kesuksesan hidup nyata dari pengusaha muda rumput laut Thailand. Ia menjadi seperti karakter asli sang pengusaha muda tersebut yang dibanggakan warga Thailand. Dalam film ini, Top Ittipat digambarkan sebagai sosok yang punya ambisi, pantang meneyrah, keras kepala, dan pekerja keras. Ia benar-benar tampil dalam sosok yang has no limits, bersedia melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginannya yakni pengusaha muda nan sukses. Dan perhatian besar yang lain tertuju pada sosok paman/pembantu yang setia. Permainan-permainannya benar-benar membuat gregetan, lantaran ia bisa mengundang gelak tawa di setiap tingkahnya. Tingkah laku serta kata-katanya benar-benar mampu membolak-balikkan hati, di satu sisi lucu namun di sisi lain mengharukan akibat kesetiaannya pada tokoh Top Ittipat .
Dalam film “The Billionaire/Top Secret” konflik yang ditampilkan hanya berpusat pada sang tokoh utama, Top Ittipat. Tiap karakter dihadirkan dan diperkenalkan melalui konflik yang berkaitan dengan Top Ittipat. Pengenalan dan penguatan karakter tokoh-tokoh dalam film ini pun sangat didukung oleh sikap masing masing peran terhadap konflik yang ditampilkan. Berikut level konflik yang muncul dalam film sesuai konsep teori konflik dan analisis sumber konflik yang muncul, yang berusaha ditampilkan sutradaranya melalui plot cerita “The Billionaire/Top Secret”.

Level Inner Conflict
Inner conflict atau lebih dikenal dengan konflik batin terjadi di dalam diri setiap karakter. Tokoh utama film ini memiliki inner conflic yang cukup tajam dan berdampak luas pada jalan cerita dan alur film. Konflik ini muncul dari beragam hal, berkaitan dengan karakter masing-masing peran pendukung, pada tingkat mind dan emotion.

·         Top Ittipat (Peach Pachara Chirativatt)
Tokoh ini mengalami banyak konflik diri, terutama saat harus membuat keputusan sulit antara mengikuti kehendak orang tuanya untuk fokus pada pendidikan formal dan keinginannya untuk menjadi pengusaha muda kaya raya. Konflik ini membuat tokoh Top Ittipat sempat meragukan dirinya, apakah Ia mampu menjadi seorang pengusaha muda seperti yang diharapkannya, atau justru seorang mahasiswa pintar sesuai kehendak orang tuanya.
Konflik batinnya ini berlangsung sepanjang cerita, tapi tidak hanya berpusat pada konflik batin antara inginnya dengan ingin orang tuanya. Ada juga konflik batin antara inginnya dengan tuntutan kekasihnya, yang intinya sama saja dengan konflik di atas. Top Ittipat sendiri awalnya masih ngambang, dia mencoba menjalani dan menyelaraskan kehendak orang tua serta kekasihnya dengan keinginan/ambisinya. Namun, di pertengahan dia merasa tidak cukup mampu fokus pada 2 hal yang berbeda, sehingga ia mempertanyakan tindakannya apakah dirinya pantas menjadi mahasiswa, yang tentunya menjadi anak berbakti serta kekasih yang pengertian, atau pengusaha muda yang kaya raya. Keputusan yang akhirnya dipilih Top Ittipat tidak mengalami jalan yang mulus, bahkan banyak sekali rintangan untuk mencapainya. Hingga sempat membuat sosok ambisius ini mengalami konflik batin yag sangat dramatis, di saat ia merasa selalu gagal dan tidak punya peluang mencapai keputusannya.  Konflik di tingkat emosi dialami tokoh Top Ittipat, hingga akhir cerita.

Personal Conflict
Family
Konflik keluarga yang terjadi dalam konteks  hubungan orang tua-anak ini mewarnai jalan cerita dalam film “The Billionaire/Top Secret. Pada dasarnya, konflik ini muncul akibat ketidaksamaan harapan orang tua dengan keinginan sang anak, Top Ittipat. Sering kali terjadi perbedaan pendapat atau bahkan cekcok kecil antara orang tua, khususnya sang ayah dengan anak ini. Hingga ada beberapa kali, sang anak, Top Ittipat, terkesan membentak sang ayah. Akibatnya, membuat sang ayah merasa “sedih” dan tidak ingin peduli lagi dengan sang anak. Namun, sang ibu tak ingin membiarkannya, sehingga muncullah lagi konflik personal antara suami-istri tentang anaknya. Sang ibu, yang memang dasarnya memiliki hati yang lembut, penyayang, dan lebih pengertian, mencoba membujuk sang ayah untuk tidak seperti itu terhadap anaknya.

Lovers
Konflik percintaan sedikit mewarnai jalan cerita dalam film “The Billionaire/Top Secret. Pada dasarnya konflik ini adalah konflik cinta yang sangat biasa antara Top Ittipat dan kekasihnya, Lin. Konflik ini dipicu oleh tuntutan Lin yang sebenarnya tidak sesuai pada sosok Top Ittipat sendiri. Hubungan mereka akhirnya harus diakhiri karena Lin tidak pernah mau mencoba mengerti dan menerima keinginan Top Ittipat. Top Ittipat lebih memilih focus pada bisnis yang dibangunnya dari pada masalah asmaranya. Hingga akirnya, Lin pun berpaling pada pria lain. Konflik percintaan ini tidak begitu ditonjolkan, hanya sekedar lewat saja. Ini sebenarnya kekurangan film ini, sepanjang cerita hanya berkutat pada tokoh Top Ittipat saja.

Friends
            Konflik personal lainnya muncul dalam lingkungan hubungan personal antar tokoh. Salah satunya saat Top Ittipat merasa dirinya ditipu oleh penjual Playstation dengan menjual padanya 50 unit PS bajakan yang sudah rusak. Top Ittipat marah-marah di depan sang penjual, hingga memuncak dengan menjatuhkan salah satu PS yang dibelinya ke lemari kaca toko tersebut sampai pecah. Dan tamparan dari sang penjual pun tak terelakkan di pipi Top Ittipat. Dalam film ini digambarkan bahwa tidak boleh terlalu buru-buru dalam mengambil keputusan, dinalisis dulu baru bisa diambil sebuah keputusan yang baik

III.3. Analisis Simbol peran Top Ittipat, sang paman/pembantu setia, dan orang tua beserta kekasih Top Ittipat
Langer mengungkapkan bahwa Tanda digunakan untuk menyatakan suatu hal, keadaan atau kejadian. Tanda merujuk pada objeknya sehingga tanda dan objek memiliki hubungan. Biasanya tanda merangsang subjek untuk bertindak. Tanda dibedakan lagi menjadi tanda alamiah dan tanda buatan.

“Simbol mengacu pada konsep dan sifatnya tidak selalu merangsang subjek untuk bertindak, namun lebih membuat kita mencoba memahaminya. Simbol adalah representasi mental dari subjek. Tanda dan objeknya hanya bersifat denotatif sementara simbol dan objeknya bersifat denotatif dan konotatif. Simbol dibedakan menjadi dua, simbol diskursif yaitu simbol yang rasional dan dapat dimengerti secara logika. Simbol ini dapat ditangkap oleh kemampuan akal budi, contohnya bahasa dan simbol representasional yaitu simbol yang sifatnya spontan dan intuisi langsung. Simbol seperti ini terdapat dalam karya seni di mana hubungan elemen simbol kita tangkap secara keseluruhan.”

            Karakter beberapa tokoh dalam film ini identik dengan berbagai simbol, dan bisa dikatakan film ini menggunakan simbolisasi yang merupakan cara sutradara mengidentikkan sesuatu peran dengan realitas dan karakteristik identitas simbol tersebut. Simbol dan perumpamaan yang muncul dalam The Billionaire/Top Secret melekat pada beberapa karakter dan merepresentasikan identitas tokohnya. Makna yang muncul akan dianalisis dengan melihat makna denotatif dan konotatif yang muncul dan seperti apa representasinya pada beberapa tokoh yaitu Top Ittipat, sang paman/pembantu setia, dan orang tua beserta kekasih Top Ittipat.
Top Ittipat
Di film ini, Top Ittipat, seorang remaja Thailand, mempunyai ambisi yang besar untuk menjadi pengusaha muda. Segala tantangan dihadapinya demi mewujudkan ambisinya itu. Di sini, seakan-akan ingin menyiratkan bahwa remaja Asia, umumnya, juga bisa seperti remaja Amerika sana, yang pantang menyerah. Juga sekaligus menekankan bahwa remaja Asia tidak semuanya “pemalas” dan “lemah”, masih ada sosok seperti “Top Ittipat” lainnya. Dan kisah nyata yang mendasari film ini semakin menjadi bukti otentik bahwa sebenarnya remaja Asia tidak kalah dengan remaja Negara super power layaknya Amerika sana.
Dan juga dari gambar uang yang ada pada poster film ini, menyiratkan bahwa tujuan hidup ini hanyalah bagaimana agar manusia bisa memperoleh uang banyak. Lalu, action Top Ittipat yang terkesan mengabaikan pendidikan formalnya dan focus hanya pada bisnis yang dibangunnya saja, sepertinya sutradara ingin menekankan bahwa pendidikan formal itu tidaklah penting sekali, pengalaman hidup dan semangat pantang menyerahlah yang lebih penting demi mencapai kesuksesan.
Sang paman/pembantu setia Top Ittipat
Sosok paman yang selalu setia menemani aksi Top Ittipat selama 120 menit ini menunjukkan bahwa film ini menyiratkan orang Timur itu punya rasa kesetiakawanan dan kesetiaan yang tinggi. Niat membantu dan mendukung yang tulus juga sangat ditonjolkan sosok sang paman dalam film ini.
Orang tua dan Kekasih Top Ittipat
Dari tingkah lakunya, Orang tua dan kekasih Top Ittipat ini mencerminkan tipe orang Asia, khususnya Thailand, biasanya, yang tidak terlalu suka dengan tantangan. Dan juga masih mempercayai wacana lama, yakni “Untuk masa depan yang baik, wajib mengikuti pendidikan formal hingga tingkat perguruan tinggi”. Pekerjaan akan datang nantinya ketika kita sudah menyelesaikan studi tersebut.

 BAB IV
PENUTUP

IV.1. Kesimpulan
Konflik merupakan hal yang lumrah dan pasti terjadi di setiap elemen kehidupan manusia. Bahkan dapat dikatakan tidak ada satupun manusia yang tidak memiliki konflik dalam hidupnya. Konflik utama yang mewarnai The Billionaire/Top Secret ini adalah seputar ambisi besar seorang remaja berusia 16 tahun menjadi pengusaha muda kaya raya, serta ketidaksetujuan dan ketidakyakinan orang-orang di sekitarnya akan keinginan ini. Isu lain yang tidak kalah penting dalam film yang ingin disampaikan adalah mengenai kepribadian dan ego manusia muda yang sangat ambisius akan kesuksesan dan uang dalam waktu yang cepat. Hal ini membuat manusia muda sering terburu-buru dalam mengambil keputusan, dan tidak mau terlalu banyak mikir, lebih ingin yang langsung dan main cepat saja.
 Simbolisasi karakter biasanya berkaitan erat dengan segala hal yang dimunculkan oleh simbol tersebut. Karakter tokoh dan gambar visual dari poster film ini memiliki nilai filosofis tersendiri yang merepresentasi masing masing tokoh sesuai dengan karakter yang didesain dalam plot cerita ini dan ending ceritanya. Namun, benang merahnya dapat ditangkap, mengapa dan apa yang menyebabkan tokoh berprilaku, sesuai dengan simbolisasi mereka masing-masing.
                                         
IV.2. Kritik/Saran
Kuatnya karakter Top Ittipat (sebagai tokoh sentral) sudah sangat mendukung kesan bahwa film ini memang pantas berjudul “Top Secret”. Sebab identitas kuat Top Ittipat yang konsisten sangat menimbulkan kesan Toplah bintangnya. Ditambah dengan karakter para tokoh/pemain lainnya yang biasa/datar saja dan selalu dikaitkan dengan sang tokoh utama serta selalu dilihat dari sudut pandang si Top Ittipat, semakin membuat sosok Top Iittipat menjadi bersinar dan menonjol serta mendapat simpati lebih banyak dari penonton.
Bisa dibuktikan, di Indonesia kemudian film ini menjadi rujukan film yang “musti” ditonton bagi orang-orang atau anak muda yang ingin berbisnis serta bagi para pebisnis yang sedang “galau”. Demi memunculkan motivasi dan inspirasi untuk selalu berusaha dan pantang menyerah dalam mewujudkan cita-cita kita.
Tapi tentu saja berlebihan jika menganggap “The Billionaire/Top Secret” akan mengajarkan kita banyak hal untuk menjadi orang kaya lebih banyak dari apa yang kita dapatkan di bangku kuliah. Ya, film garapan Songyos Sugmakanan (My Girl dan Phobia2) ini memang berbeda dari kebanyakan film Thailand lain yang akhir-akhir ini lebih banyak menjejali penontonnya dengan komedi romantis. Ia inspiratif, penuh dengan petuah-petuah hebat tentang perjuangan tidak kenal menyerah dan sedikit informasi tentang bisnis dan bagaimana memasarkan dagangan di supermarket sebesar 7-Eleven.
The Billionaire sudah menghadirkan sebuah narasi menarik di sepanjang kurang lebih 2 jam durasinya. Sangat bagus melihat semuanya berfokus pada perjuangan Top yang keras kepala itu mengejar impiannya untuk menjadi pebisnis handal sembari menolong kedua orangtuanya dengan balutan penyutradaraan apik Sugmakanan dengan gaya  alur majur mundur  dan elemen komedi yang menarik, terlebih mengingat Thailand memiliki kedekatan dengan Indonesia soal kehidupan bermasyarakat dan berbisnis, termasuk bagaimana aktor muda Patchara Chirathivat sukses mencuri semua perhatian penontonnya. Penampilannya jelas lebih baik dari yang sudah dibuatnya di Suckseed. Tapi sangat disayangkan sekali, fokus yang monoton seperti ini akan membuat para penonton bosan. Hanya tokoh utama saja yang menjadi pusat perhatian dari awal hingga ending, padahal masih ada celah sebenarnya untuk menjelaskan lebih lagi mengenai karakter tokoh lainnya. Malah tokoh lainnya itu seperti numpang lewat saja, apalagi sosok Lin, kekasih Top Ittipat. Jikalau saja dibahas lebih jauh lagi, maka kemungkinan besar bakal jadi bumbu yang lebih manis buat film ini.
So, “The Billionaire/Top Secret”, sebuah film yang menyenangkan dan menyegarkan untuk perfilman Thailand secara keseluruhan. Mungkin terlalu banyak dramatisasi, tapi toh ini hanya sebuah film hiburan. Ya, mudah-mudahan saja Sugmakanan tidak malah mengilhami para penonton mudanya untuk mengorbankan pendidikan dan uang orang tua para penonton mudanya untuk sesuatu yang belum tentu mereka bisa dapatkan hanya dengan modal semangat pantang menyerah saja. Dalam artian, tidak semua anak muda bisa seberuntung tokoh utama film ini, Top Ittipat.
  
Daftar Pustaka

Aumont, Jacques, et al. 1983. Esthétique du cinéma. Nathan, Paris.
Alwilsol. Psikologi Kepribadian. UMM, Malang, 2004, 111-139.
Bataille, Robert. 1978. Théorie du cinéma. Cinémaaction No. 20, Paris
Boeree, C. George. 2005Personality Theories. Primasophie, Yogyakarta
Barker,Chris. 1999. Cultural Studies; Teori dan Praktik. Yogyakarta.PT Bentang Pustaka
Kolker,Robert .2002. Film, Form and Culture. Mcgraw-Hill,  New York
Hall, C.S dan Lindzey, 1978G. Theories of Personality, Yogyakarta
Suriasumantri, Jujun S.1984  Filsafat Ilmu, Jakarta: Penerbit Sinar Harapan

Situs :

2 komentar: